Archive for July, 2006

Kopi

Monday, July 17th, 2006

Kafein, pertama kali diekstraksi dari kopi pada tahun 1821, adalah alkaloid—merupakan senyawa trimethylxanthine, bekerja mirip amphetamines dengan efek sedang—yang menurut Linder, penulis buku Nutritional Biochemistry and Metabolism, berperan melalui penghambatan fosfodiesterase, menyebabkan peningkatan level cyclic-nucleotida, yang selanjutnya memengaruhi sistem saraf pusat. Selain kopi, bahan lain yang memilikinya dapat dilihat pada tabel.

Selain dapat "disulap" jadi obat—dosis kafein dalam resep obat migren biasanya sekitar 30 hingga 40 mg per tablet—stimulan, dan penghilang rasa sakit, senyawa ini pun bisa diandalkan sebagai alternatif penurun berat badan. Itu lantaran senyawa ini pintar membakar lemak dengan cara meningkatkan laju metabolisme.

Laporan sebuah studi menyebutkan, 100 miligram kafein (sekitar secangkir kopi) dapat meningkatkan laju metabolisme 3-4 persen. Pada beberapa relawan dengan berat badan normal didapati, efek tersebut terlihat nyata 2,5 jam setelah mereka mengonsumsinya.

Meski demikian, para peneliti menyatakan bahwa pembakaran kalori yang distimulasi oleh kafein akan lebih baik jika disertai olahraga. Hal lain, ini pun bukan berarti dengan banyak minum kopi berarti bebas efek samping.

Dalam dosis berlebihan (antara 250 sampai 750 mg atau 2-7 cangkir kopi) dapat menimbulkan kegelisahan, mual, sakit kepala, otot tegang, gangguan tidur, dan palpitasi jantung (jantung berdebar), terkadang juga anoreksia. Sementara jika dosisnya lebih tinggi lagi (di atas 750 mg), akan muncul berbagai gangguan emosi dan indera, utamanya pendengaran dan penglihatan (http://www.caryacademy.org).

Efek jangka panjang

Namun, sisi negatif kafein tak hanya bakal terasa sesegera itu saja. Serangkaian penelitian telah mengintip efek jangka panjangnya.

Dalam Reader’s Digest edisi Desember 1994, yang mengutip laporan penelitian yang dibiayai The US National Institute of Child Health and Human Development dan The US National Institute on Drug Abuse, memberitakan bahwa wanita yang mengonsumsi 300 mg kafein setiap harinya memiliki kesempatan 27 persen lebih rendah untuk hamil dibandingkan dengan mereka yang terbebas darinya. Meski mekanismenya belum diketahui pasti, sebuah hipotesis mengatakan, kemungkinan substansi ini dapat menurunkan level hormon—semisal estrogen— hingga memengaruhi ovulasi.

Situasi lainnya diungkap oleh Physicians Committee For Responsible Medicine dalam Healthy Eating for Life to Prevent and Treat Cancer. Walau kaitan antara kopi dan risiko terkena kanker belum jelas, beberapa studi memperkirakan kemungkinan kopi memengaruhi DNA dan meningkatkan risiko terkena kanker kandung kemih dan ovarian. Selain itu, minum kopi yang sangat panas dapat memberi efek kerusakan pada sel dalam mulut dan kerongkongan, yang jika dilakukan berulang kali dapat mencetuskan kanker pada bagian tersebut.

Demikian halnya laporan para peneliti dari Harvard School of Public Health, sebagaimana dicatat Balch dan Stengler dalam Prescription for Natural Cures. Walau menyisakan tanda tanya ihwal kejadiannya, mereka menemukan, wanita yang mengonsumsi 5-7 gr kafein per bulan (setara dengan dua cangkir kopi per hari) memiliki kemungkinan dua kali lipat terkena endometriosis daripada yang tidak mengonsumsi kafein.

Begitu pun dalam hal kepiawaian kafein "menendang" kalsium melalui urine, yang selanjutnya memerosotkan kekuatan tulang, menjadikannya gampang patah. Studi Harvard mendapati, pada wanita pascamenopause yang mengonsumsi banyak kafein (lebih dari enam cangkir kopi per hari), risiko menderita patah tulang pinggul tiga kali lebih tinggi daripada yang tidak.

Meski demikian, studi pada hampir 1.000 wanita pascamenopause di California memperlihatkan pula, pada pengonsumsi sedang (dengan meminum paling sedikit segelas susu per hari) dapat menolong mengimbangi kehilangan kalsium yang disebabkan oleh kafein yang terdapat dalam dua cangkir kopi.

Maka, supaya kejadian tersebut dapat dihindari, berbijaksanalah dengannya. Artinya, kita tentunya tidak serta-merta menghentikannya sebab kafein dapat membuat "ketagihan". Manakala dosis asupannya dikurangi, banyak "pencandunya" yang melaporkan terjadinya ketidakmampuan bekerja dengan baik, gelisah, dan mengantuk, selain sakit kepala, karenanya.

Dalam kasus yang ekstrem, terjadi situasi mual dan muntah. Namun, melalui pengaturan, jangan sampai berlebihan minum kopi.

Taken from KOMPAS.com

Mahabandit

Thursday, July 13th, 2006

I have graduated…!

Img_0522

Wasn’t that long time ago?

Yep….

But I just got my certificate today, 13 July 2006. I am a Mahabandit right now.

And I invite you to take a look on how it was hapenning that day… Check it on

http://adiwaluyo.blogs.friendster.com/photos/wisuda/index.html

Enjoy it my friends..

Moment to remember

Sunday, July 9th, 2006

Italia the Champ…Cacacnan_get500

One month already passed. The result already decided

Italy is the Champion of World Cup 2006

They are top of the worl again, for the 4th time, 1932, 1938, 1982, 2006.

After all that happened in their country, all the controversy, I would say they deserve this crown.

Cattenacio is still their brand, but their their player, defender, mildfielder, striker show that they are more than able to attack and score. Statistics is not a decider but they doesnt lie. Only conceded 2 goals, one from own goal and from Zidane penalty. I am afraid to call this as total football, but in fact eleven out of their player score goal.

Here they are the list of new Italian heroes :

G1 Gianluigi Buffon M16 Mauro German Camoranesi
G12 Angelo Peruzzi M17 Simone Barone
G14 Marco Amelia M19 Gianluca Zambrotta
D2 Cristian Zaccardo M21 Andrea Pirlo
D5 Fabio Cannavaro S7 Alessandro Del Piero
D6 Andrea Barzagli S9 Luca Toni
D13 Alessandro Nesta S10 Francesco Totti
D22 Massimo Oddo S11 Alberto Gilardino
D23 Marco Materazzi S15 Vincenzo Iaquinta
M3 Fabio Grosso S18 Filippo Inzaghi
M4 Daniele De Rossi S20 Simone Perrotta
M8 Gennaro Gattuso

Forza Italia

Hypervelocity

Monday, July 3rd, 2006

Hypervelocity_impact_demonstration Hypervelocity is usually referred to a very high velocity, such as over 3,000 meters per second (10,000 ft/s, Mach 8.82). In particular, it refers to velocities sufficiently high that the strength of materials is very small compared to inertial stresses. Thus, even metals behave like fluids under hypervelocity impact. Extreme hypervelocity results in vaporization of the impactor and target. For structural metals, hypervelocity is generally considered to be over 2,500 m/s (5600 mph/8200 ft/s, Mach 7.3). Meteor craters are also examples of hypervelocity impact.

Hypervelocity tends to refer to velocities in the range of a few kilometers per second to some tens of kilometers per second. It is especially relevant to the field of space exploration, where hypervelocity impacts can result in anything from minor component degradation to the complete destruction of a spacecraft. The impactor, as well as the surface it hits, can undergo temporary liquefaction. The impact process can generate plasma discharges, which can interfere with spacecraft electronics.

Hypervelocity usually occurs during meteor showers and deep space reentries, as carried out during the Zond, Apollo and Luna programs. Given the intrinsic unpredictability of the timing and trajectories of meteors, space capsules are prime data gathering opportunities for the study of thermal protection materials at hypervelocity (in this context, Hypervelocity is defined as greater than escape velocity). Given the rarity of such observation opportunities since the ’70s, the Genesis and the recent Stardust Sample Return Capsule (SRC) reentries as well as the upcoming Hayabusa SRC reentry have spawned observation campaigns, most notably at NASA Ames Research Center.

(as copied from Wikipedia.org)